Akademisi: Tak Ada Alasan Untuk Tolak Putusan MK

Banuabicara.com – Akademisi dari Univ. Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang menyampaikan bahwa tidak ada alasan bagi BPN 02 menolak putusan hukum dan jika menolak, maka memperkuat dugaan palson 02 hanya mengejar kekuasaan tanpa mengindahkan mekanisme konstitusional.

“Menurut saya, tidak ada alasan bagi BPN untuk menolak keputusan hukum. Jika mereka menolak, justru akan memperkuat dugaan publik jika paslon 02 hanya mengejar kekuasaan tanpa mengindahkan mekanisme prosedural secara konstitusional,” kata Ahmad Atang di Kupang, Senin (27/9).

Dr. Ahmad Atang mengatakan bahwa BPN harus siap menerima putusan jika MK menolak gugatan karena putusan hukum tidak terkait menerima atau menolak tetapi patuh atau tidak.

Hal tersebut dikemukakan berkaitan dengan gugatan BPN ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan kesiapan BPN Prabowo-Sandi untuk menerima hasilnya jika MK menolak gugatan.

Ia menambahkan, keputusan hukum bukan soal menerima atau menolak akan tetapi dipatuhi atau tidak.

Menurut Ahmad Atang, tidak ada pilihan yang lebih bermartabat bagi pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno selain menerima apapun hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Menerima keputusan MK menunjukkan sikap seorang negarawan dalam sebuah kontestasi politik demokrasi.

Pandangan berbeda disampaikan akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Mikhael Raja Muda Bataona, MA yang mengatakan, jangan berharap Prabowo Subianto mengakui kekalahan, karena terlalu banyak melibatkan para elite yang merasa dirugikan oleh kekuasaan Jokowi-Jusuf Kalla saat ini.

“Kalau berharap bahwa Prabowo akan mengakui kekalahan itu sulit. Secara simbolik bisa saja iya. Tapi secara riil akan adanya rekonsiliasi hingga ke akar rumput itu saya kira sangat sulit,” kata Raja Muda Bataona.

Selain itu, paslon 02 ini sulit menerima kekalahan karena mempertaruhkan terlalu banyak hal, yang menjadi dasar perjuangan para pihak di belakang pasangan calon Prabowo-Sandiaga.

Menurut dia, jika dibaca secara psikologi politik, ketegangan pasca-Pemilu Presiden 2019 ini memang sengaja dirawat dan dikehendaki untuk terjadi sedemikian rupa.

“Karena itu, akan sangat sulit bagi Prabowo Subianto untuk menerima kekalahan karena sebagai titik episentrum yang menyatukan banyak pihak yang menyatakan dirinya ”oposisi” dengan kekuasaan saat ini,” katanya.

Prabowo-Sandiaga sebagai negarawan akan lebih bermartabat jika menerima apapun hasil putusan MK. (RA/MCF)

Be the first to comment

Leave a Reply