Kerusuhan yang Terjadi di Papua Akibat Generasi Milenial Termakan Hoaks di Media Sosial

Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengungkapkan awal mula pemicu dari serangkaian kerusuhan yang terjadi di Tanah Papua dan sekitarnya. Menurutnya peristiwa itu dipicu karena masyarakat terutama generasi milenial terpengaruh oleh informasi hoaks di media sosial.

“Sekarang luar biasa karena dampak dari perkataan rasis yang dilemparkan di Surabaya tanggal 15 Agustus kalau tidak salah, itu merangkai dari Malang kemudian tanggal 17 (Agustus) terjadilah viral berita hoaks itu, berita yang menghebohkan. Sekarang kita rasakan dampaknya,” kata Paulus dalam Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Greenalison, Sentani, Papua, Selasa (1/10/2019).

Selain menimbulkan kerusuhan, akibat informasi hoaks itu, lanjut Paulus menyebut sekitar 3.000-an mahasiswa Papua memutuskan untuk melakukan eksodus atau kembali ke kampung halamannya masing-masing. Mereka merasa tidak nyaman di daerah tempat mereka menuntut ilmu.

“Ini salah satu dampak berita di medsos yang luar biasa,” bebernya.

Paulus mengaku heran lantaran berita palsu atau hoax yang beredar di dunia maya lebih dipercaya dibanding imbauan dari pemerintah. Paulus yang saat ini ditunjuk oleh Kapolri sebagai Kapolda merasa tertantang untuk menyelesaikan permasalahan ini dan bertekad agar permasalahan di Papua dapat segera diselesaikan.

“Saya pikir ini jadi tantangan kita bersama untuk kita ikuti seperti apa permasalahan yang sedang ada di lingkungan kita. Saya pribadi merasa sedikit tertantang karena itu kok bisa secepat itu mereka percaya dengan berita seperti itu dan mengabaikan pernyataan atau imbauan ajakan daripada pemangku kepentingan berturut-turut dari pemerintah pusat, pemprov, pemkab itu udah berusaha tetapi juga tidak terlalu mengikuti,” ujarnya.

“Mereka lebih banyak lebih suka dengan berita-berita yang diviralkan dari medsos. Saya pikir tantangan bagi kita generasi tua katakan untuk melihat generasi milenial sekarang dalam mengekspresikan pikiran mereka,” imbuhnya.

Meski upaya itu belum membuahkan hasil, dirinya meingimbau sekaligus berharap kerjasama dari seluruh pihak dan masyarakat untuk menyelesaikan konflik di Papua. Karena seyogyanya pemerintah dan seluruh elemen masyarakat bersatu untuk mengakhiri konflik ini.

Namun yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana mennggunakan media sosial dengan bijak agar tidak menjadi awal dari sumber kerusuhan. Karenanya semua masyarakat diminta agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial, terutama terkait dengan isu Papua.

“Di sini saya mau tantang apakah saudara-saudara adalah tokoh yang memang kita harapkan untuk berperan meluruskan berbagai berita (hoaks) dan apakah yang akan dilakukan akan diterima generasi dibawah kita? Itu pertanyaannya,” kata dia.

Be the first to comment

Leave a Reply