Seruan Referendum Satu Afiliasi dengan Kelompok Orba

– Mantan pimpinan juru runding Indonesia dalam MOU Helsinki 2005, Hamid Awaludin mengatakan, ucapan Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf yang memunculkan wacana referendum di Aceh, “bukan hanya tidak urgent (penting)” tetapi juga “bahaya sekali” bagi jalannya perdamaian Aceh yang sudah berjalan lebih dari 14 tahun.

“Karena kalau Anda tanya saya (apa) urgensinya (ucapan Muzakir Manaf tersebut), bukan hanya tidak urgent, tapi itu bahaya sekali, bahaya sekali,” kata Hamid Awaludin dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Kamis (30/05).

“Rakyat Aceh sudah nikmati kok, apa yang terjadi sekarang,” tambahnya.

Wacana menggelar referendum di Aceh dengan pilihan, tetap menjadi bagian wilayah Indonesia atau lepas dan menjadi negara baru, sebagaimana dalam kasus Timor Leste, diutarakan Muzakir Manaf, mantan panglima Gerekan Aceh Merdeka (GAM) yang saat ini menjabat sebagai ketua umum Komite Peralihan Aceh (KPA) dan sekaligus ketua umum Partai Aceh (PA).

erbongkar kan aksi para pengusung referendum yang sudah habis akal menghadapi kekalahan dan tak mau mengakui Presiden Jokowi. Adalah kebencian dan dangkalnya nasionalisme menjadikan para manusia-manusia itu picik dan gelap mata, secara membabi buta mau memisahkan diri.

Tak bisa menerima kekalahan dan tak ada niat untuk merajut persatuan menjadi latar kenapa para pendukung Prabowo tak mau menjalin kesatuan dan kebersamaan. Tak heran junjungannya memberi contoh yang vulgar.

Pak Jokowi mau merangkul dan ingin bertemu Prabowo tapi dia tak dibiarkan bertemu. Piimpinan BPN senagja menjaga jarak karena merasa pertemuan itu akan membuat Prabowo lemah dan mengakui kekalahan.

Narasi bahwa mereka adalah yang paling benar dan pemenang sesungguhnya membuat para pendukung di akar rumput semakin yang perbuatan junjungannya itu adalah benar dan harus didukung.

Maka tambah edan dan tertutuplah pikiran semua pendukung 02 untuk ngotot mengklaim kecurangan yang membuat mereka kalah. Karena itu dengan pikiran sumbu pendeknya mereka merasa lebih baik berpisah.

Sang penggagas adalah Muzakir Manaf, mantan panglima Gerekan Aceh Merdeka (GAM) yang saat ini menjabat sebagai ketua umum Komite Peralihan Aceh (KPA) dan sekaligus ketua umum Partai Aceh (PA). Muzakir Manaf dengan sebutan akrab Mualem juga pernah menjabat sebagai wakil gubernur Aceh.

Senin (27/5/2019) malam di depan para pejabat antara lain Plt Gubernur Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, dan sejumlah petinggi lain di Aceh, dia melontarkan idenya itu.

“Alhamdulillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja, itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem.

Ucapannya langsung disambut tepuk tangan dan yel,yel beberapa tamu undangan, “ hidup Mualem ”.

Di provinsi Aceh sendiri, Prabowo-Sandi menang telak dengan 81% suara.

Usut punya usut, memang sudah bisa diduga si Muzakir Manaf adalah tokoh yang dekat dengan Prabowo. Dia pernah bergabung dengan Gerindra dan belakangan berdiri dengan bendera partai Aceh. Afiliasinya jelas ke Prabowo.

Paling menyolok adalah fotonya bersama Titiek. Loh kok malah pamer kedekatan? Ini sudah mengindikasikan ada kepentingan saling kait mengait dengan gerbong Orde Baru. Saling menguntungkanlah, ceritanya.

Rektor Universitas Nahdatul Ulama ( UNU) Yogyakarta, Purwo Santoso, Selasa ( 28/5) berkomentar bahwa alaasan kekalahn Prabowo itu menjadi alasan mereka melontarkan referendum. Tapi diingatkan oleh seorang tokoh agar tak bermain-main dengan kedaruratan.

“ Muzakir Manaf, mencoba untuk memakai kesempatan dalam kesempitan Jakarta, “ ujar Purwo Santoso, ketika diminta tanggapannya soal konstalasi refendum Aceh dengan kekalahan Prabowo – Sandiaga pada Pilpres 2019.

Tak ada upaya sedikitpun untuk menyejukkan dna meredam emosi akibat kekalahan ke para pendukungnya, malah terus mengipas dan menaruh bara.

Sementara Dahnil Anzar dan BPN lah yang membuat bangsa ini jadi retak, terkoyak dengan berbagai aksi anarkis dan provokatif. Ngaca yang banyak dulu Dahnil kalau mau bicara soal kebangsaan dan persatuan. Justru dirimu yang sangat licin dan culas serta menjadi pengompor rakyat dan bikin suasana di NKRI menjadi gaduh.

Be the first to comment

Leave a Reply